Pages

Tuesday, 26 February 2013

Live In Pare [Part II]




Heyho!
 
Gue mau lanjutin cerita-cerita di Kampung Inggris, Pare. This is part two, will be full about friendship, love, madness—everything emotionally.

You know, I was all alone. I mean, gue ke Pare sendirian, nggak bareng temen atau saudara. Intinya, nggak ada yang gue kenal. When I stepped my foot at departure spot, I feel like, Ok this is it. I’m gonna meet new people, and live with them for a month. Gue berkorban banyak untuk pergi ke Pare. I leave my comfort zone. Also my job. Keputusan yang sulit karena gue harus resign dari kerjaan tetap yang sangat bikin gue betah, tanpa tahu nanti dapet kerjaan lagi atau enggak.

Di bis, gue dapet tempat duduk paling depan, bangku kedua. Berpasangan sama yang namanya mirip gue. Awalnya gue kira urutan tempat duduk ditentukan berdasarkan inisial nama. Gue sempet bingung karena inisial nama gue dari huruf S, harusnya dapet kursi tengah. Tapi ternyata, urutan duduk ditentukan berdasarkan urutan yang bayar duluan! And I was the second. Karena memang gue udah booking tempat dari jauh-jauuuuuh hari.

It was kinda awkward. Masing-masing belum kenal sama semua penduduk bis, jadi kita sibuk sendiri. Denger musik sendiri, main hape, baca buku. Ngobrolnya paling cuma sama guide, atau temen duduk samping-depan-belakang. I was sooo excited ketika melewati daerah perbatasan. It’s like, I wanna scream, HELL YEAH! I’M LEAVING TOWN! KELILING PULAU JAWA, MEN! Lebay banget, sampe tiap ada tulisan Jawa Tengah atau Jawa Timur di pinggir jalan aja gue foto. Dengan hasil yang blur, tentunya, yang akhirnya gue delete. Hahaha.

Tiba di Pare, langsung pembagian kamar. Satu kamar, lima orang, beda daerah asal, beda suku. Setelah pembagian kamar, kita langsung capcus makan di warteg. You know what? Di warteg, gue ketemu anak sekampus, yang bisa bahasa Sunda! Whoaaa seneng banget rasanya ketemu orang se-almamater di daerah orang lain! Padahal rombongan gue juga ada yang bisa bahasa Sunda dan sekampus, tapi nggak sekamar.

Gue tinggal di Camp, which is 24jam wajib pakai English. Peraturan cukup ketat. Abis bangun subuh, langsung belajar vocab, idiom, presentasi, dan semacamnya sampai jam enam pagi. Jam 10 lanjut belajar speaking/grammar di tempat les. Lanjut lagi nanti jam 2 siang. Abis maghrib belajar presentasi / diskusi di Camp. Ada juga yang ambil les tambahan di tempat lain. Gitu terus tiap hari, five days a week. Dan di tiap jeda waktu menuju les berikutnya, gue selalu makan! Gila, laparnya kayak apaan di sana. Untung makanan sana murah-murah. Kalau gak makan, ya tidur. Because, apa yah, di sana tuh capek. Kita bener-bener sibuk belajar.

That’s why ngobrol dan sharing sama temen sekamar bisa jadi hiburan banget. Beruntung gue punya temen sekamar yang kocak dan baik-baik banget. Ada orang Padang, Jawa, Minang, and they just soooo sweet, nice, and kind. I really miss them, a lot. Temen sekelas gue juga macem-macem. And we are close with each other karena murid Speaking 3 (kelas gue) cuma belasan orang. Dan kadang yang attending class cuma sepuluh orang, bahkan kurang. Kalau kelas lain sampe 20-an, bahkan 30 orang sekelas. 

Beberapa temen ada yang langsung tumbang dalam seminggu. Because—again—kita kecapean. Rata-rata setiap orang musti hadir di tiga sesi pertemuan setiap hari-nya, belum sesi yang di Camp, dan di tempat les lain [kalau nambah], dengan lama dua jam tiap sesi. Ada juga beberapa temen yang sakit karena homesick, but I’m not. Gue sempet tumbang dua hari, karena demam, karena murni kecapean. Di situ kehadiran temen sekamar berasa banget. Mereka ngerawat, ngejagain, beliin makanan, bagiin air minum [sumpah, air minum itu harta yang sangat berharga di sana], kasih obat, bahkan gue dipijitin tiap kali kena migrain. I found new family that time. 

Study hard, play harder. Ketika weekend tiba, nggak ada orang yang nggak pengen refreshing. We were seriously need it, every single week. Minggu pertama, kita pergi keliling Pare dan Kediri. Dimulai dari Candi Surowono, terus Gua apalah-itu-namanya-lupa, dan Gumul di Kediri Kota. Gue paling suka di Gumul. Bukan karena di kota yah, tapi karena bangunannya. Seperti bangunan di Paris! Beautiful!
Minggu kedua, ke Bromo. Again, I was soooo excited! Bromo, men! Bromoooo! Hehehe. Cerita bromo udah gue posting ya di link ini -> goo.gl/wdN9k. Lanjut minggu ketiga, I spend my time keliling Pare. Temen-temen satu Camp pada misah, ada yang ke Pulau Sempu, sama Jatim Park. Temen-temen sekamar gue maen ke desa sebelah buat berenang. They asked me to join, but I wont. Karena gue bukan orang yang senang berbondong-bondong, yang kemana-mana harus sama temennya. Sometimes being alone to some place just feel sooooo good.

Sebelum sampai ke hari terakhir di Pare, rombongan dari jasa tour inisiatif ngadain Farewell Party. We held it at Café Bali. Di Pare, tempat ini cukup terkenal karena wifi yang kenceng, tempat yang oke, dan orderan yang datengnya lama (yes, I just mention it). Sejam, dua jam, acara berlangsung lancar. Sampai jam sembilan malem, pihak café dengan sengaja mencabut paksa kabel mikrofon. I repeat, mencabut paksa! Bukan mencabut layaknya kita nyabut charger handphone, tapi narik kabelnya dari jauh kayak narik layangan.
Why? Ternyata jam sembilan nggak boleh ada keributan di daerah sana. Keributan means suara-suara lagu, orang pidato, yah yang semacam itulah. Padahal di kota gue [Bandung], hal-hal seperti itu bukan keributan. Apalagi masih jam sembilan malem, kasarnya orang dugem aja belom berangkat. Tapi ya kita harus menghargai aturan tidak tertulis dari masyarakat sekitar, jadi kami lanjutkan acara tanpa mikrofon.

Temen-temen mulai bete, dan akhirnya terhibur dengan nyanyi sama-sama diiringi satu gitar. But, again, we were dumped. Tiba-tiba cafe ditimpukin batu segede-gede jeruk nipis sampe jeruk bali. Oh my God, it was such a drama! People there wont let us finish the Farewell Party! Acara pun langsung di-cut, dan kami pulang ke Camp. Cukup menyebalkan, tapi kita harus respek, so yeah, we left the place with sullen face.

Minggu terakhir, langsung ke tiga tempat. Jogjakarta, Candi Prambanan, dan Candi Borobudur. I was like, OH MY GOD, THIS IS A REAL VACATION! Foto-foto, makan-makan, jalan-jalan, belanja-belanji, all at once! Tapi bagian ini sedih juga, karena gue akan berpisah sama temen-temen Pare dalam beberapa jam lagi.

Suasana berbeda sangat terasa di bis saat perjalanan pulang. We were singing together, bus full of love-sign and laughter! Karena ada beberapa temen yang terlibat “cinta lokasi”, dan masih berlanjut sampai sekarang. Beda banget sama suasana pas berangkat yang sepi, canggung, dan malu-malu.

The bus and guide dropped us off at the point of departure spot. I still clearly remember, bagaimana gue berpisah sama temen-temen sekamar. Just hug and shakin hand, no tears. Padahal gue pengen banget nangis, like, really really bad. Tapi temen-temen juga bilang, “Jangan lama-lama pelukannya, nanti nangis nggak berhenti,” and I obeyed it. 

Gue tiba di kosan sekitar jam 9 malem, karena sempet tidur dulu di tempatnya temen sekamar waktu di Pare. Begitu nyampe Bandung, temen kosan udah pada nunggu aja di depan gerbang, dan menerima gue dalam keadaan yang udah kucel, bokek, lapar, dan ngantuk. Mereka sampe tulis “Welcome back, Chilly” di papan pengumuman mainan punya gue. Hahaha, thanks to them. Such an exhausting day, dan gue tepar sampe jam 10 besoknya. WHAT A MONTH!

Next few days gue sempet kelimpungan karena kehabisan duit. But I am not entirely jobless, cause I got freelance job sometimes. Tapi gue nggak nyesel pergi ke Pare dengan mengorbankan kerjaan. Because I got the better one right now. Hell yeah, baby! 

Saran gue sebelum lo ke Pare, sediakan tabungan yang cukup untuk hidup setelah pulang dari sana. Tapi itu kalau lo jobless ya, kalau masih pelajar atau mahasiswa sih mungkin masih bisa tenang. I gotta say, worth it banget lo belajar bahasa Inggris di Pare. Dengan syarat, minimal tiga bulan, dan les di tempat yang oke [udah gue jelasin di postingan part satu]. You’re gonna miss that place, I swear! 

Setelah dari Pare, persahabatan masih terus terjalin, walaupun komunikasi cuma lewat dunia maya. Jadi, yang gue dapet sepulang dari Pare bukan cuma ilmu. Tapi teman, sahabat, relasi, memori indah, dan keluarga baru. Oh my God, I really miss every pieces of it..

Sesuai janji gue di Part 1, gue akan posting sebagian foto-foto waktu di Pare. Baru sebagian, karena sebagian lagi gue lupa nyimpennya di mana. Foto di Borobudur, Prambanan, sama Bromo ada di facebook, jadi nggak gue tampilin di sini. Here we goooo...


Camp tempat gue tinggal. Indonesia Area ada di pojokan, lantai 2.

Itu yang berkerumun lagi beli sarapan. Nasi kuning cuma dua ribu!
Parkiran sepeda depan Camp. All belong to girls.

Sepeda gue selama di Pare. Dua kali kempes, satu kali rantai lepas. Hahaha.
Jajanan favorit di Pare. Kalo di Bandung namanya Cilok.

Pelataran Gumul Kediri, sore hari.

Gumul Kediri dari kejauhan.

My roommates. Kiri ke kanan: Nita, Sisil, Dewe, Gue, Ai.

Candi Surowono. Yeah, I know. Memang cuma segitu doang.
Odong-odong Bajuri :D

ODONG-ODONG!
Gua entah-apa-namanya-gue-lupa di Pare. Gue nggak masuk, karena nggak bawa baju ganti.
My Speaking Class.
PS : Kalau mau tau jasa tour yang gue pake untuk ke Pare, silahkan cari di google, dengan keyword Eureka Tour Kampung Inggris. They are young, good, and capable.




23 comments:

  1. that's good information that we don't know much about pare. great

    ReplyDelete
  2. eureka kampung inggris apa cuma buat mahasiswa n pelajar aja...??
    klo buat umum bisa..?? trus cari info buat di bandung dimana...??
    makasih sebelumnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat non-pelajar/mahasiswa juga bisa. Tapi karena waktu di sana cukup lama, sekitar sebulan sampe 3 bulan, kebanyakan mahasiswa yang ke sana. Pas liburan kuliah gitu. Atau yang baru lulus dan belum dapet kerja.

      Delete
  3. Thanks, dear ! I am so interested reading your aeticles, becouse I have some memories like yours. I was one of exstudents BEC in TC 34.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow, BEC is a pioneer. You must be an expert.

      Delete
  4. soddapp
    keren kaa,
    bahasa inggrisnye makin tokcer aje nih
    hahahha

    minimal kursus disana berapa lama ka??

    ReplyDelete
  5. Welcome to pare !
    Memang klo di pare gk boleh ada suara2 lebih dari jam 9.
    Klo masih rame ya bakalan di usir warga sekitar :D

    ReplyDelete
  6. haha....hampir sama pengalamannya..gw jg sempet ngorbanin kerjaan waktu bela-belain ke pare...but, gw ga pernah nyesel...bedanya gw kesana ga pake agent tour...nekat aja langsung kesana...
    "pare jg tempat pelarian cerdas buat yg lagi galau lho,
    beruntunglah orang2 galau yg kesana..."
    cobalah...

    ReplyDelete
  7. wah.. keren !!
    semangat yah.. :D
    aku dulu juga alumni pare loh, jadi pengen segera share cerita ketika di pare. hehe :D

    ReplyDelete
  8. tehhhh untuk bisa jalan jalan gitu kemana mana kyk di cerita ini, perlu budget berapa kira-kira yaa? di luar pendaftaran ke eureka tour sendiri yaaaaa. please banget di jawab.
    aku juga da orang sunda bogor tapi mama asal bandung (gapenting sih, tp biar makin akrab hehe)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu bisa baca bagian satunya di postingan sebelum ini. Kalau pergi sendiri sih, menurut temen2 aku ya, biasanya lebih murah.

      Delete
  9. ass ... mbak,
    setelah saya baca tulisannya, seprtinya saya mulai trtarik untuk kesana,, boleh tahu ngak berapa mbak menghabiskan biaya kursus, biaya makan dll selama disana .....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada di postingan sebelum ini. Tapi waktu itu saya cuma abis duit Rp 2 jutaan.

      Delete
  10. Progress nya dari sebelum ikut ke Kampung Inggris dan setelah ikut bagaimana? Apakah ada perubahan signifikan dari skill B. Ing kita terutama speaking?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hasilnya kerasa kok. Aku karena cuma ikut kelas Speaking, ya jadi lebih berani ngomong.

      Delete
  11. nicely written, Kak. Jadi pengin ke sana beneran deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiiiih lhooo. Kamu juga salah satu blogger favorit aku btw. Hihihi.

      Delete
  12. menarik banget ceritanya.. pengen kesana

    ReplyDelete