Pages

Showing posts with label Menyapa Negeriku. Show all posts
Showing posts with label Menyapa Negeriku. Show all posts

Tuesday, 22 December 2015

BBM, SDM, dan Seribu Pulau

(Cerita dari Saonek bagian 3)

BICARA Raja Ampat, benak kita seolah otomatis membayangkan pantai yang indah, biota laut yang kaya, dan senyum warga Papua. Yang terbayang seperti sempurna saja. Padahal, Raja Ampat juga masih banyak kekurangan. Terutama, dari segi pendidikan dan Sumber Daya Manusia (SDM).

Gugusan pulau di Pianemo.

Thursday, 17 December 2015

Pulau tanpa Dokter

Cerita dari Saonek (bagian 2)

SUARA genset menderu dari kejauhan. Lampu-lampu kemudian menyala. Setiap anggota tim Menyapa Negeriku langsung memburu stop kontak yang kosong untuk mengisi daya ponsel atau laptop. Seketika semua colokan penuh.

Sumber listrik diburu, karena tidak menyala setiap waktu. Genset juga hanya digunakan dalam kurun waktu tertentu—jam 18.00 sampai jam 24.00 saja. Selebihnya, ya tanpa listrik.

Seorang anak mengendara sepeda menuju sekolahnya. Di Saonek, transportasi utama hanya sepeda dan motor. Tapi rata-rata warga setempat lebih suka jalan kaki.
Begitulah hari-hari kami di Pulau Saonek, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Listrik seolah jadi fasilitas mewah di sana. Sebab, tak semua warga bisa menggunakannya. Hanya terbatas pemilik genset dan yang mampu beli solarnya. Mesin umum—sebutan warga lokal untuk genset—juga hanya digunakan untuk rumah ibadah atau sekolah. Itupun penggunaannya sama, tidak 24 jam penuh.

Sunday, 13 December 2015

Keinginan vs Kenyataan

Cerita dari Saonek (bagian 1)


’’IBU guru! Ibu guru! Begini kah?” tanya seorang anak sambil menyodorkan selembar kertas. Saya baca sekilas, lalu mengangguk. ’’Betul. Lanjutkan saja ya,” ucap saya. Si anak pun melanjutkan menulis dengan semangat.

Sesi menulis "seandainya saya jadi kepala sekolah, saya akan..." di SMPN 1 Saonek.

Hari itu, saya berkesempatan meminta murid SMPN 1 Saonek, Kabupaten Raja Ampat, untuk menulis seandainya mereka jadi kepala sekolah. Hasilnya mencengangkan. Banyak keluhan yang terungkap. Banyak pula kesalahan penulisan yang fatal.

Saturday, 21 November 2015

Menuju Indonesia Timur



BELAKANGAN program #MenyapaNegeriku dari Dikti memenuhi timeline Twitter saya. Apalagi setelah saya diumumkan lolos seleksi. Banyak banget yang nanya, pengumumannya di mana? Lihat di website apa? Cepetan jawab mba, Blablabla. Mungkin mereka nongkrongin website-nya Dikti dari subuh untuk lihat pengumuman. Sampai website-nya down karena terlalu banyak diakses orang secara berbarengan.

Sebelumnya, saya nggak menyangka bisa lolos. Melihat jumlah pendaftar yang melebihi 47 ribu orang, rasanya nggak perlu menggantungkan harapan tinggi-tinggi. Tapi saya tetap percaya diri, namun tidak ambisius. Makanya ketika saya kirim formulir pendaftaran ke email Dikti, saya sudah ikhlas dari awal jika tidak terpilih. Setidaknya, mereka sempat membaca formulir saya dan syukur-syukur menampung aspirasi saya.